Kamis, 25 September 2008

Tolak Perpanjangan Pensiun Hakim, Manula Geruduk MA


Manula Geruduk Makamah Agung

3 Orang manusia lanjut usia (manula) yang menggunakan kursi roda dan tongkat melakukan demo di depan Gedung Mahkamah Agung (MA). Wajah mereka pucat pasi karena sakit yang dideritanya. Mereka memprotes usulan perpanjangan usia pensiun hakim agung menjadi 70 tahun. Aksi ini digelar Indonesia Corruption Watch (ICW) di depan Gedung MA, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (12/9/2008).

3 Manula itu digambarkan dalam aksi ICW seperti dibawah ini :

Pria pertama dengan rambut yang ditaburi bubuk putih dan wajah pucat pasi tampak mengenakan jas hitam dengan kemeja putih. Pria itu ditempeli tulisan identitas diri yang berbunyi, nama Bagaimana (BM), umur 67 tahun. Ia mempunyai penyakit hepatitis A, ginjal, dan ambeien. Tiap bulan menghabiskan 20 hari di Rumah Sakit Edisabeth. Dia didorong salah seorang pengunjuk rasa.

Pria kedua, seorang pria menggunakan tongkat dengan tubuh terbungkuk-bungkuk. Dia mengenakan sarung bermotif kotak-kotak warna hijau kaos warna putih. Namanya Jono Simsalabim (JS), usia 65 tahun. Jabatan tukang halo-halo. Penyakit pikun akut, insomnia, dan anemia. Prestasi memutus 100 perkara dalam sehari dan menghilangkan 1.000 perkara dalam setahun.

Pria ketiga, bernama Sok Wibawa (SW) usia 66 tahun. Dia mengenakan batik lengan pendek warna coklat dan celana panjang. Jabatannya tukang distribusi perkara. Penyakit post power syndrome dan kanker. Dia telah membebaskan 300 koruptor dalam setahun, menolak panggilan KPK dan Pengadilan Tipikor sebagai saksi.

Belasan peserta aksi tampak membentangkan poster bertuliskan " MA bukan panti jompo ", dan " Tolak usia pensiun hakim agung 70 tahun."

"Usia 70 tahun tergolong usia tidak produktif sehingga seharusnya usulan perpanjangan hakim agung menjadi 70 tahun ditolak. Jika dikabulkan hal ini dapat menurunkan produktifitas MA," kata peneliti hukum ICW Illian Deta Arta Sari dalam orasinya.

Menurut dia, tunggakan perkara dan perkara yang masuk mencapai 20 ribu perkara. Dengan beban menyelesaikan tunggakan di MA yang berat dan menyangkut nasib masyarakat luas maka usia 65-67 tahun sudah merupakan usia maksimal.

Komisi III DPR membahas RUU MA sejak September 2008. Setelah rapat kerja dengan pemerintah, Komisi III DPR bahkan akan membentuk Pansus RUU MA yang salah satunya membahas usulan perpanjangan pensiun hakim agung MA menjadi 70 tahun.

( Nala Edwin – detikNews, Jumat, 12/09/2008 11:25 WIB )(aan/iy)

Sabtu, 20 September 2008

Kiat Berpuasa Bagi Lansia

(KapanLagi.com - Puasa Ramadhan sebenarnya tidak diwajibkan bagi orang-orang yang telah lanjut usia (lansia), namun dorongan kuat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Sang Pencipta justru seringkali membuat para lansia lebih bersemangat menunaikan ibadah puasa dibandingkan mereka yang diwajibkan. )
Dr. dr. Siti Setiati SpPD, K Ger MEpid dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta mengatakan 91% lansia ingin berpuasa Ramadhan tahun ini dan hanya 9% yang menyatakan tidak akan berpuasa. "Dari 91% lansia yang ingin berpuasa, 80%-nya yakin bisa berpuasa sebulan penuh. Ini menurut hasil survei yang dilakukan di RSCM pada 2007 terhadap lansia berumur antara 64 tahun hingga 83 tahun," katanya.
Padahal, menurut dia, tidak seperti penduduk dengan usia yang lebih muda, organ tubuh lansia telah mengalami berbagai penurunan fungsi. Dokter Siti menjelaskan, saat memasuki usia lansia kemampuan tubuh untuk menyerap asupan nutrisi dan cairan menurun sehingga metabolisme tubuh terganggu.
Pada masa itu, ia melanjutkan, jumlah cairan tubuh manusia menurun dari 60% menjadi 45-50% sementara sensasi rasa haus lebih rendah dari sebelumnya sehingga asupan cairan menurun dan berisiko mengakibatkan dehidrasi atau kekurangan cairan. Nafsu makan lansia, menurut dr. Siti, pun umumnya menurun karena faktor sosial, psikologis dan penyakit sehingga status nutrisinya terganggu. Orang-orang berusia lanjut biasanya juga menderita berbagai macam penyakit dengan gejala dan tanda yang tidak khas.
"Tiap lansia rata-rata menderita empat jenis penyakit, antara lain hipertensi, gangguan kolesterol, ginjal dan rematik," katanya. Semua itu menyebabkan para lansia cepat merasa lelah dan lemah serta mudah bingung. Lantas pertanyaannya, apakah dengan kondisi tubuh yang demikian orang-orang berusia lanjut secara medis masih aman berpuasa?
Jawabannya, menurut dr.Siti, dapat dikatakan aman selama kondisi tubuh lansia yang bersangkutan stabil, penyakitnya terkontrol dan tidak mengalami infeksi akut. Namun agar lansia tetap fit selama berpuasa, ia menyarankan anggota keluarga yang lain untuk mengatur dan memerhatikan pola makan, minum dan aktivitas anggota keluarga mereka yang telah berusia lanjut.
"Pola makan sebaiknya diatur dengan 40% kalori pada saat sahur, 50% kalori saat berbuka dan 10% kalori setelah sahur. Jangan lupa usahakan memberi makanan ringan sebelum shalat magrib dan makanan berat sesudah shalat," ujarnya. Dia menambahkan pula bahwa kebutuhan kalori bagi lansia ketika berpuasa dan tidak berpuasa sama, sehingga sebaiknya menu diatur berdasarkan kebutuhan kalori harian untuk lansia. Komposisi gizi pada menu makanan yang disajikan untuk lansia mesti seimbang.
Disarankan juga agar saat sahur dipilih konsumsi minuman teh dan kopi serta makanan yang lebih cepat dicerna seperti gula dibatasi. Lansia, menurut dia, dianjurkan lebih banyak mengonsumsi makanan yang lambat dicerna dan makanan berserat tinggi agar mempunyai lebih banyak simpanan energi untuk menjalankan aktivitas ketika sedang berpuasa.
Konsumsi kurma, menurut dia, juga sangat dianjurkan karena kurma mengandung gula, serat, karbohidrat, kalium dan magnesium yang sangat penting untuk menjaga vitalitas para lansia. Jenis makanan lain yang merupakan sumber kalium, magnesium dan karbohidrat seperti pisang dan makanan yang mengandung vitamin dan mineral tinggi, menurut dia, juga dianjurkan.
Agar lansia tidak kekurangan cairan selama berpuasa, dia menganjurkan agar mereka dipastikan mengonsumsi sekitar 30-50 cc cairan/kg berat badan/hari atau sekitar 8-10 gelas cairan dalam sehari. "Supaya tidak sampai dehidrasi sebaiknya jadwal minum diatur, misalnya saja dua gelas saat berbuka, tiga sampai empat gelas setelah shalat tarawih sampai sebelum tidur, satu gelas saat bangun tidur sebelum sahur dan satu hingga dua gelas saat sahur," katanya.
Ia juga menyarankan agar para lansia tidak terlalu banyak mengonsumsi es karena es dapat menahan rasa kenyang dan menurunkan konsumsi makanan yang lengkap. "Yang harus diingat adalah bahwa kita minum dan makan dengan otak, bukan dengan lidah. Karena kondisi tubuh kita bergantung pada apa yang kita makan," ujarnya.
Sedangkan berkenaan dengan konsumsi obat-obatan bagi lansia, ia mengatakan, bahwa sebaiknya obat-obatan diberikan pada saat berbuka dan atau sahur. Dia menambahkan pula bahwa para lansia tidak dianjurkan untuk berpuasa jika kondisi fisik mereka tidak memungkinkan. (*/cax)